Tampilkan postingan dengan label kamu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kamu. Tampilkan semua postingan
Secangkir kopi di atas meja, warnanya hitam pekat, aromanya yang khas masih lekat di hidungku.
Secangkir kopi yang sama seperti biasanya, tanpa ada yang istimewa. 
Dia bahkan tidak bergula.

Kehadirannya di atas meja adalah saksi bergulirnya lagi cerita tentangmu, tentang hujan, tentang senja-senja yang lewat di balik mendung, tentang apa saja yang bisa kuingat.
Cerita-cerita yang tak terlalu panjang, namun tak pernah bisa kuselesaikan.
Rasanya belum terlalu lama, tapi aku selalu lupa bagaimana cara mengakhirinya.

Ah, aku ingat.
Mungkin itu karena seharusnya kamu yang melakukannya.
Bukankah kamu selalu mahir mengakhiri sesuatu? 

Aku hanya ingat bagaimana kita memulainya.
Kamu, yang entah mengapa bersikeras ingin bicara segera. Sudah tidak ada lagi waktu, adalah alasanmu hari itu.
Waktu itu bahkan jarum panjangku belum berjalan terlalu jauh, namun kakiku terasa merapuh. Sekali dalam hidupku, aku ingin lumpuh. Aku ingin punya alasan untuk tetap diam dan tidak berlari. Kenyataan tak menyisakan ruang untukku bersembunyi.
Waktu itu bahkan gema denting sendok yang beradu pada cangkir kopiku belum lagi pergi, namun telingaku terasa sunyi. Sekali dalam hidupku aku ingin tuli. Aku ingin punya alasan untuk tetap diam dan tidak mendengar kata-kata yang kamu ucapkan. 

Kamu diam
Aku diam
Kamu kemudian pergi
Aku sendiri

Ah, sungguh aku tidak mengerti bagaimana caranya kuakhiri cerita ini.
Secangkir kopi di atas meja kini tidak lagi hangat.
Namun sungguh tak ada lagi yang bisa kuingat tentang hari itu selain kamu yang bergegas pergi dan tidak menoleh lagi.

Mungkin kamu hanya ingin pulang sebelum hujan dan petang. Iya kan?

Hari ini kudengar hujan deras akan datang di kotamu.Semoga kamu tidak lupa memakai jaket dan minum segelas cokelat hangat.
Aku rindu
entah kepada kamu
entah kepada kita
entah kepada diriku saat aku bersamamu.

Aku rindu
kepada malam yang kita habiskan bersama
di teras rumah
di sudut kafe dekat jendela
di antara pepohonan
di jalanan kota tua.

Aku rindu
pada caramu tertawa
pada gerak tangan
pada bibir
pada binar matamu.

Aku rindu
pada pembicaraan kita tentang hal-hal sederhana
tentang hujan dan gerombolan domba
tentang biji kopi dan lagu lama
tentang layang-layang dan matahari senja.

Aku rindu
hening yang begitu dekat
genggam yang begitu lekat
peluk yang begitu erat
rasa yang begitu kuat.

Aku rindu
pada hari-hari yang kini kamu sebut masa lalu
pada hari-hari yang kini kamu sembunyikan dari waktu
pada hari-hari yang kini kamu tak mau tahu.

Lebih daripada itu,
aku rindu dirindukan kamu.


Lama tidak kudengar kabarmu, sudah lama juga sejak kita terakhir kali bertemu.
Sudah beberapa purnama, atau mungkin banyak senja, jika kamu menghitungnya.
Sempat kita bercakap beberapa waktu, tidak banyak, hanya sejenak. Pertanyaan seadanya tentang kabar dan kegiatan kita setelah beberapa lama.
Aku pun tidak mengerti mengapa, namun kata-kata di antara kita tidak lagi bisa menjadi jembatan atas dua benak yang penuh tanda tanya. Tak satupun dari maksud dalam benakku yang berhasil menyeberang secara utuh kepadamu. Setidaknya, itulah yang aku rasakan, dan aku bahkan tidak berani bertanya bagaimana denganmu. Dan sekarang, mungkin aku sudah kehilangan kesempatan untuk mendapatkan jawaban.

Terkadang hidup memang memberikan kita kejutan dalam kemasan yang tidak pernah kita sangka, pada waktu yang tak pernah kita duga, dengan cara yang tidak pernah kita kira.

Sudah beberapa lama, sejak kita berjalan pada tanah yang berbeda, meski masih di bawah langit yang sama.
Kemanapun aku, tidak pernah kudapati kamu.
Dulu, kamu pernah bilang, bahwa bagaimanapun aku dan kamu pada akhirnya, kamu tidak akan pernah jauh. Kamu bilang, kamu akan datang kapanpun aku butuh, jarakmu hanya dalam sekali rengkuh. Namun begitulah, terkadang waktu membuat kata-kata berakhir tidak pada tempatnya. Kenyataannya, tidak bisa kudapati kamu dimana-mana, tidak bisa kujangkau kamu meski telah kucoba sekuat tenaga. Tidak lagi pernah kita bertemu, meski janjimu kala itu dan usahaku kali ini benarlah sungguh-sungguh.

Terkadang waktu yang kita minta menjawab segala pertanyaan datang secara tiba-tiba, dengan cara yang tidak kita sadari, bahasa yang tidak kita ketahui, dan makna yang pada awalnya tidak dapat kita pahami.

Setelah berlalunya waktu, dengan sendirinya kita akan tau, mana janji yang bertahan hidup, dan mana janji yang ternyata mati. Kita akan mengerti, bahwa akan ada beberapa “tidak mungkin” yang pada akhirnya benar nyata dan harus dihadapi, bagaimanapun kita berharap hal-hal itu tidak benar terjadi.

Dengan caranya sendiri, waktu memberitahumu tentang banyak hal, yang seandainya kau bisa memilih sebelumnya, maka kau akan memilih untuk tidak pernah tau. Namun waktu tidak pernah bertanya lebih dulu, maka bersiaplah kita seharusnya, atas kenyataan yang disodorkan tepat di depan muka. Kenyataan, pahit atau manis, adalah untuk diketahui, diterima, dan kemudian dijalankan, apapun bentuknya. Termasuk jika itu datang sebagai hal-hal yang dulu pernah kau anggap tidak akan jadi nyata.

Cerita tentang dua orang asing yang dipertemukan waktu, yang kemudian saling menyayangi, tapi akhirnya berpisah dan kembali menjadi orang asing, sekarang bukan lagi dongeng buatku. Cerita seperti itu memang benar ada.
Kadang, rasa sakit atau sesak yang dirasa memang ada untuk membuat kita menyadari bahwa cinta pernah hadir sebelumnya.
Aku bukan hendak mengeluh.
Setiap manusia tentu memiliki cerita hidupnya. Setiap perjalanan pasti memiliki rumah tempatnya pulang. Semua yang ada adalah misteri waktu dan rahasia Tuhan.
Kita hanya tidak pernah tahu, kapan bahagia datang, dan kapan bahagia pergi,
Kapan kita harus bersikeras mempertahankan, atau harus ikhlas melepaskan.

Aku dan kamu, adalah cerita kecil semesta.
Bagaimanapun sakit atau sesak yang ada, adalah bagian dari cerita.
Mungkin, setiap cerita memang akan berakhir bahagia, namun kita tak tau kapan giliran kita.
Sekarang mungkin giliranmu lebih dulu, maka berbahagialah.
Tertawalah bersamanya, hiduplah dengan baik.
Aku berbahagia untukmu. Meskipun berat, aku akan mencobanya.
Kelak saat tiba giliranku, maka saatnya kamu berbahagia untukku.

Tidak perlu menyesali apa yang sudah terjadi.
Pertemuan kita adalah skenario Tuhan, begitu pula perpisahannya..


Aku tak akan lagi memintamu terus berada di dekatku,
asal jarakmu masih dalam jangkauanku.
Aku tak akan lagi mengharapmu merindukanku setiap hari,
asal kutahu kalau rengkuhanmu masih tak terlalu jauh.
Aku tak akan lagi membuatmu ada selalu untukku,
asal hatimu tak terlalu dingin untuk berbagi.

Apakah kau tahu,
cukup menikmati hangatnya mentari senja setiap hari, aku tahu kau selalu ada untukku.
cukup menyeduh coklat panas tiap aku mengingatmu, aku tahu rengkuhmu tak akan pernah jauh.
cukup mendengarkan gemericik rintik hujan, aku tahu kau mampu rasakan aku di tiap helamu.

Biarkan saja,
setiap hal tentu memiliki jalannya sendiri.
namun kali ini aku tak akan lagi menjadi air, yang hanya mau mengalir, lalu jatuh..
aku tak akan lagi jatuh padamu.

Antara kita telah menjadi kata, menjadi cerita kecil di suatu sudut kota.
aku percaya, telah kita lakukan semua agar kata tetap menjaga kita, namun aku dan kamu, ternyata memiliki jalan yang berbeda.
Karena seburuknya belenggu adalah kebebasan, dan seburuknya kebebasan adalah 'asalkan', maka kita memilih untuk diam dan bertahan, namun sendirian.

Dan tibalah kita pada suatu permulaan berwujud perpisahan.
Aku percaya ada kejutan menanti kita, mungkin dalam rupa harapan, ataupun teguran.
dan kini, aku tahu, tak akan lagi ada belenggu.