Kita tak semestinya berpijak
pada tanah yang terlalu basah
oleh air mata
yang rindu pulang ke rumah.

Kita tak semestinya beranjak
dari kisah yang terlalu lelah
oleh luka duka
yang sendu menuju patah

Kita tak semestinya bersorak
akan resah yang telah kalah
oleh putus asa
yang candu mencari celah.


rumah, 3 agustus 2013


Lama tidak kudengar kabarmu, sudah lama juga sejak kita terakhir kali bertemu.
Sudah beberapa purnama, atau mungkin banyak senja, jika kamu menghitungnya.
Sempat kita bercakap beberapa waktu, tidak banyak, hanya sejenak. Pertanyaan seadanya tentang kabar dan kegiatan kita setelah beberapa lama.
Aku pun tidak mengerti mengapa, namun kata-kata di antara kita tidak lagi bisa menjadi jembatan atas dua benak yang penuh tanda tanya. Tak satupun dari maksud dalam benakku yang berhasil menyeberang secara utuh kepadamu. Setidaknya, itulah yang aku rasakan, dan aku bahkan tidak berani bertanya bagaimana denganmu. Dan sekarang, mungkin aku sudah kehilangan kesempatan untuk mendapatkan jawaban.

Terkadang hidup memang memberikan kita kejutan dalam kemasan yang tidak pernah kita sangka, pada waktu yang tak pernah kita duga, dengan cara yang tidak pernah kita kira.

Sudah beberapa lama, sejak kita berjalan pada tanah yang berbeda, meski masih di bawah langit yang sama.
Kemanapun aku, tidak pernah kudapati kamu.
Dulu, kamu pernah bilang, bahwa bagaimanapun aku dan kamu pada akhirnya, kamu tidak akan pernah jauh. Kamu bilang, kamu akan datang kapanpun aku butuh, jarakmu hanya dalam sekali rengkuh. Namun begitulah, terkadang waktu membuat kata-kata berakhir tidak pada tempatnya. Kenyataannya, tidak bisa kudapati kamu dimana-mana, tidak bisa kujangkau kamu meski telah kucoba sekuat tenaga. Tidak lagi pernah kita bertemu, meski janjimu kala itu dan usahaku kali ini benarlah sungguh-sungguh.

Terkadang waktu yang kita minta menjawab segala pertanyaan datang secara tiba-tiba, dengan cara yang tidak kita sadari, bahasa yang tidak kita ketahui, dan makna yang pada awalnya tidak dapat kita pahami.

Setelah berlalunya waktu, dengan sendirinya kita akan tau, mana janji yang bertahan hidup, dan mana janji yang ternyata mati. Kita akan mengerti, bahwa akan ada beberapa “tidak mungkin” yang pada akhirnya benar nyata dan harus dihadapi, bagaimanapun kita berharap hal-hal itu tidak benar terjadi.

Dengan caranya sendiri, waktu memberitahumu tentang banyak hal, yang seandainya kau bisa memilih sebelumnya, maka kau akan memilih untuk tidak pernah tau. Namun waktu tidak pernah bertanya lebih dulu, maka bersiaplah kita seharusnya, atas kenyataan yang disodorkan tepat di depan muka. Kenyataan, pahit atau manis, adalah untuk diketahui, diterima, dan kemudian dijalankan, apapun bentuknya. Termasuk jika itu datang sebagai hal-hal yang dulu pernah kau anggap tidak akan jadi nyata.

Cerita tentang dua orang asing yang dipertemukan waktu, yang kemudian saling menyayangi, tapi akhirnya berpisah dan kembali menjadi orang asing, sekarang bukan lagi dongeng buatku. Cerita seperti itu memang benar ada.
Kadang, rasa sakit atau sesak yang dirasa memang ada untuk membuat kita menyadari bahwa cinta pernah hadir sebelumnya.
Aku bukan hendak mengeluh.
Setiap manusia tentu memiliki cerita hidupnya. Setiap perjalanan pasti memiliki rumah tempatnya pulang. Semua yang ada adalah misteri waktu dan rahasia Tuhan.
Kita hanya tidak pernah tahu, kapan bahagia datang, dan kapan bahagia pergi,
Kapan kita harus bersikeras mempertahankan, atau harus ikhlas melepaskan.

Aku dan kamu, adalah cerita kecil semesta.
Bagaimanapun sakit atau sesak yang ada, adalah bagian dari cerita.
Mungkin, setiap cerita memang akan berakhir bahagia, namun kita tak tau kapan giliran kita.
Sekarang mungkin giliranmu lebih dulu, maka berbahagialah.
Tertawalah bersamanya, hiduplah dengan baik.
Aku berbahagia untukmu. Meskipun berat, aku akan mencobanya.
Kelak saat tiba giliranku, maka saatnya kamu berbahagia untukku.

Tidak perlu menyesali apa yang sudah terjadi.
Pertemuan kita adalah skenario Tuhan, begitu pula perpisahannya..



Jangan pernah kau ragukan kepandaianku sembunyikan rindu.
Beri aku pena, maka akan kau dapati namamu di tiap aksara..





Aku dan kamu.
Sore itu, aku dan kamu, menghabiskan senja hingga merunut malam tiba bersama-sama.
Kau baru saja sampai siang itu dari kotamu, tampak lelah dan mengantuk.
Dan seperti biasa, kau lagi-lagi beristirahat ditemani kopi dan sebatang rokok diantara telunjuk dan jari tengah tangan kananmu. Kau duduk di sudut ruangan itu, tak banyak bicara. Memperhatikan kegiatan di sekelilingmu.
Hingga kau lihat aku, lalu tersenyum. Senyummu yang biasa, yang selalu mampu membuatku mendekat dan menyapa.
Lalu, larutlah kita, dalam cerita yang tak terlihat putusnya.
Tak disangka, semesta ternyata punya rencana.
Mendung yang menggantung sejak pagi akhirnya tumpah juga, sore itu hujan deras, maka berteduhlah aku dan kamu di teras perpustakaan, bersama beberapa yang lainnya. Aku ingat waktu itu kau tawarkan jaketmu kepadaku, jangan sampai aku basah dan kedinginan lalu sakit, katamu.
Aku menolak, bagiku, mengetahui kamu telah cukup hangat membuatku tak lagi merasa dingin.
Dan kamu melanjutkan ceritamu.
Tentang hari-harimu, cita-cita, kopi kesukaanmu, tentang luka di tangan kirimu, dan banyak lagi. Dan aku terus mendengarkan. Aku menyukai caramu bercerita. Aku menyukai binar matamu waktu kamu bersemangat akan sesuatu. Aku menyukai caramu tertawa atau sedikit terkekeh saat kamu mengingat sesuatu di tengah cerita.
Aku suka berada di dekatmu.
Aku ingat, kamu pernah tanyakan sesuatu, tentang satu kalimat dalam catatanku yang tak sengaja kamu baca. Kau bertanya, apakah pernah kehadiranmu membuat aku bernafas lebih lega. Aku tak siap, aku tak tau bagaimana harus kujawab.
Suatu kali, aku pernah mendambakan tentang seseorang, yang cukup dengan kehadirannya aku mampu bernafas lebih lega, menghirup udara lebih tenang. Namun seketika itu, kusadari kamu bukan orangnya, kamu memberiku lebih dari itu.
Kamu, adalah seseorang yang mampu membuat hariku terasa tak pernah terlalu buruk.
Dan aku hanya diam, tersenyum padamu. Berharap kamu akan cukup paham, kamu akan segera mengerti.
Lalu ternyata, kamu juga tersenyum.
“Tidak semua hal harus dimengerti, tidak semua pertanyaan menemukan jawaban.” katamu sore itu.


….dan lewat matamu, aku telah tau, aku dan kamu telah sama-sama mengerti, bahwa setelah hari itu, aku dan kamu akan saling berbagi setiap hari.
Aku tak akan lagi memintamu terus berada di dekatku,
asal jarakmu masih dalam jangkauanku.
Aku tak akan lagi mengharapmu merindukanku setiap hari,
asal kutahu kalau rengkuhanmu masih tak terlalu jauh.
Aku tak akan lagi membuatmu ada selalu untukku,
asal hatimu tak terlalu dingin untuk berbagi.

Apakah kau tahu,
cukup menikmati hangatnya mentari senja setiap hari, aku tahu kau selalu ada untukku.
cukup menyeduh coklat panas tiap aku mengingatmu, aku tahu rengkuhmu tak akan pernah jauh.
cukup mendengarkan gemericik rintik hujan, aku tahu kau mampu rasakan aku di tiap helamu.

Biarkan saja,
setiap hal tentu memiliki jalannya sendiri.
namun kali ini aku tak akan lagi menjadi air, yang hanya mau mengalir, lalu jatuh..
aku tak akan lagi jatuh padamu.

Antara kita telah menjadi kata, menjadi cerita kecil di suatu sudut kota.
aku percaya, telah kita lakukan semua agar kata tetap menjaga kita, namun aku dan kamu, ternyata memiliki jalan yang berbeda.
Karena seburuknya belenggu adalah kebebasan, dan seburuknya kebebasan adalah 'asalkan', maka kita memilih untuk diam dan bertahan, namun sendirian.

Dan tibalah kita pada suatu permulaan berwujud perpisahan.
Aku percaya ada kejutan menanti kita, mungkin dalam rupa harapan, ataupun teguran.
dan kini, aku tahu, tak akan lagi ada belenggu.
Ini adalah cerita tentang suatu bulan yang terjaga jumawa di suatu malam. Ini adalah sepotong pejalanan bulan yang tanpa sengaja kusimpan di angan dalam-dalam..

Beberapa malam lalu, aku hanya beberapa jengkal berjarak dengan bulan. Mungkin hanya beberapa langkah, mungkin hanya beberapa rentang. Tanganku serasa mampu memetiknya dari langit dalam satu kali jinjit.
Malam itu, bulan jumawa sendiri menerangi, tak ada bintang, tak pula awan. Dia sendirian. Dan seketika, bulan terlihat lebih menawan, entah bagaimana, entah mengapa dia bisa....

Bulan sendirian.
Dan, dia justru terlihat menawan.

Lalu bulan menarik diriku bercermin pada 'diriku'. Diriku yang kini sendirian.
Apakah kesendirianku mampu semenawan bulan?
Entah bagaimana, bagiku sendirian selalu lebih menyeramkan dari malam. Sendirian selalu serupa mimpi buruk yang membayangi dari balik selimut. Sendirian selalu berada dalam makna yang tidak menyenangkan.
Tapi, tidak malam itu.
Bukankah kesendirian justru memberimu ruang untukmu mendengar dia yang tadinya tak terdengar, dia yang tadinya terabaikan, yang ada lebih dekat dari urat lehermu sendiri?
Coba aku ingat-ingat....
Ketika sendiri, kita belajar untuk tidak serakah, memikirkan dan merasakan diri sendiri, mengenalinya.
Ketika sendiri, kita mampu mendengarkan apa yang sebenarnya kita mau, tanpa melulu merisaukan suara-suara lain.
Bukankah begitu?
Karena seharusnya, ketakutan akan sendiri bukanlah alasan yang tepat untukmu bisa menggandeng tangan orang lain...

Manusia datang sendirian, dan kelak akan pergi sendirian.
Bagaimana mungkin kita ketakutan akan sesuatu yang telah ditetapkan?
This is it!
Akhirnya tercapailah cita-cita buat bikin blog. Akhirnya tercapailah punya tempat baru buat meluapkan segala perasaan... yeah.
So, this is my blog.
And, this is my story...